Selasa, 06 November 2012

Ku Cerpen

Ketegaran Mawar

Hari masih esok dan semua aktivitas di pedesaan sudah mulai ramai, walaupun ayam belum berkokok tapi semua orang sudah bergegas untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid. Di suatu kota di Pontianak tepatnya di Kalimantan barat, tinggalah seorang anak perempuan yang cantik bersama keluaraganya dia adalah sepupuku dekat, namanya Arsy Kusuma Wardhani dan dia juga mempunyai kakak laki-laki yang bernama Saka, kedua orang tuanya bekerja sebagai dosen di Universitas yang ada di sana, semula mereka hidup bahagia dan tak kurang apapun karena mereka adalah keluarga yang cukup berada. Tetapi ketika kedua orang tua Arsy yang biasa dipanggil Mawar mendapatkan beasiswa untuk meneruskan kuliah di Universitas yang ada di Surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), yang mengharuskan keluarga itu meninggalkan kota tercinta dan pindah ke Solo, Mawar dan kakaknya juga harus pindah sekolah. Mawar memutuskan untuk tetap ikut pindah orang tuanya, dan harus rela meninggalkan teman-temannya yang ada di Pontianak.
Suatu ketika Mawar bertanya pada mamaknya, begitulah dia memanggil ibunya.
“mamak... apakah kita nanti  jadi pindah ke Solo? ”, Mawar betanya dengan logat kalimantannya, lalu mamaknya menjawab “Ya tentu, mawar...”.
Sebelumnya tanteku, ya itulah mamaknya Mawar itu merantau sampai ke Kalimantan, sebenarnya tanteku asli daerah Solo, dan pamanku juga asli Solo, tapi gak tau ya, mungkin setelah mereka bertemu lalu menikah mereka memutuskan untuk merantau ke Kalimantan dan akhirnya sekarang juga kembali lagi ke kota asalnya, hehe....Setelah perjalanan yang cukup lama tanteku dan Mawar sampai juga di Solo, Sewaktu pertama kali aku bertemu Mawar, aku berpikir dia adalah anak yang baik, manis, cantik, dan juga kayaknya penurut sama orang tua,...tetapi aku sering tertawa sendiri saat aku dengar dia berbicara, karena logatnya itu lhoo yang buat beda, bicaranya kaya orang Malaysia, ...
Aku sering mengunjungi rumah Mawar bersama orang tuaku hanya untuk sekedar mampir saja, Mawar anaknya asik dan juga pendiam, dia agak sulit buat berkomunikasi dengan bahasa jawa, tetapi dia sebenarnya juga mengerti kalau aku ajak bicara pakai bahasa jawa, ya mungkin sih dia agak gimana gitu kalau niruin aku ngomong bahasa jawa. Dia akan tinggal bersama orang tuanya di Solo ya sekitar 3-4 tahun, itu juga belum tentu sih. Setelah berjalannya waktu, Mawar sudah mulai merasa nyaman tinggal di Solo, karena rumahnya yang gak jauh dari pusat kota tapi seperti komplek perumahan padat penduduk. Tapi terkadang saat Mawar termenung dia teringat masa-masanya di Kalimantan bersama teman-temannya. Hobi Mawar adalah membaca novel anak, dan salah satu novel yang disukai Mawar adalah cerita tentang seorang kakak yang sebal kepada adik angkatnya, karena adiknya yang kembar itu sangat sering mengganggu kakaknya dan suka mengerjai kakaknya, tetapi sebenarya dalam lubuk hati kakak dia itu sayang sekali dengan adik-adiknya. Suatu ketika adiknya yang kembar tadi pergi suatu kota bersama kedua orang tuanya naik pesawat, dan ada suatu kejadian yang tak terbayangkan sekali dibenak hati kakak bahwa terjadi kecelakaan pesawat yang mengakibatkan adik angkatnya tersebut meninggal, sebelum meninggal adik-adiknya menitipkan sebuah surat kepada pembantunya buat kakaknya yang isinya mereka meminta maaf kalau sering mengganggu. Nah, itulah salah satu novel kesukaan Mawar.
Dua tahun kemudian setelah Mawar melewati hari-harinya dengan suasana baru, Di tahun ini saat bulan puasa, Mawar pastinya juga ikut berpuasa. Dan ketika hari ketiga, ada sesuatu yang  terasa berbeda pada diri Mawar, dia merasa pusing, mual, bahkan dia langsung jatuh tak sadarkan diri. Karena kedua orang tua dan kakaknya panik kebingungan mereka langsung membawa Mawar ke rumah sakit. Dokter menyarankan kepada kedua orang tuanya, Mawar sementara waktu harus menjalani rawat inap, dan kedua orang tuanya pun setuju karena kekhawatiran mereka pada Mawar. Sehari setelah Mawar din opname di rumah sakit, dokter pun memberikan hasil tes lab tentang kesehatan Mawar. Dokter pun agak ragu membacakan hasil lab nya, dari hasil lab tersebut Mawar didiagnosis mengidap kanker otak, dan mengaharuskan dia untuk operasi dan khemoterapi.
Ku tahu walaupun Mawar orangnya agak pendiam, tapi aku yakin mawar bisa melewati cobaan ini, selang  tiga hari setelah dia rawat inap, Mawar harus menjalankan operasi yang mengharuskan memotong rambut keritingnya yang indah agar dapat mengangkat cairan yang ada di otaknya. Teman-teman sekelas dan guru-guru Mawar tak lupa memberikan motivasi kepada Mawar supaya dia tetap tegar dan semangat , serta berharap agar Mawar bisa sembuh dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa serta bisa bersekolah kembali.
Penderitaan Mawar tak sampai di sini, karena setelah dia operasi, lima harinya adalah hari raya Idul fitri, ..dia melewati hari raya untuk pertama kali dengan kondisi fisik yang lemah, Mawar selalu menyakinkan dirinya ‘Bahwa aku dapat melewatinya.....!’. Dengan keyakinan yang sangat kuat, bahkan bila hanya seorang biasa seperti aku, aku mungkin tak kan sanggup menjalaninya, tetapi kebalikan dengan yang ditunjukkan Mawar. Dengan ketegaran, keberanian, dan keyakinan dia melewati hari-harinya  dengan selang yang masih melekat di bagian kepala belakangnya yang belum diambil, karena dokter yang menangani sedang libur dan baru akan dilanjutkan nanti setelah hari raya. Setelah itu, kondisi yang sangat berbeda seperti biasa setelah mawar menjalani operasi yang kedua, untuk mengambil selang yang masih ada di bagian kepala belakang, sampai dirumah dia hanya tergolek lemah tak berdaya. Sungguh sangat tersiksanya diri Mawar, dia hanyalah gadis kecil yang umurnya mungkin baru menginjak 12 tahun, dan Mawar juga rela mengorbankan sekolahnya yang padahal sebentar lagi diadakan UN, tetapi apa mau dikata itulah takdir yang harus dijalani Mawar.
Mengingat saat Mawar masih kecil, dia lahir dengan anggota tubuh yang lengkap dan tak cacat. Dokter memeriksanya dan mengatakan bahwa dia sehat jasmaninya. Tetapi keadaan sekarang membuat teheran-heran, memang itulah kehendak Allah yang tak dapat kita duga. Analisis dokter tentang penyakit Mawar adalah kemungkinan kanker otak itu penyakit turunan atau penyakit yang dibawa oleh gen dari ayah atau ibu, tapi melihat kedua orang tuanya yang tidak mengidap penyakit tersebut. Tetapi setelah di ingat-ingat kembali kata mamak mawar dulu kakek Mawar mengidap penyakit tersebut. Dokter menyimpulkan bahwa penyakit yang di idap Mawar itu diturankan dari kakeknya.
Teringat saat Mawar masih tersenyum kecil yang dia torehkan dibibirnya, tertawa, bermain bersamaku. Walaupun kini dia juga bisa tersenyum, tapi aku bisa merasakan bagaimana sakitnya bila aku menjadi Mawar. Mawar kecilku yang cantik, ramah, ceria, dan penuh dengan aktivitas sekarang detik demi detiknya dilewati bersama obat-obatan yang membuatnya tergantung. Ku teringat saat bagaimana Mawar tersenyum kecil hanya untuk menyenangkan hati mamaknya. Ada satu berita dari dokter bahwa Mawar harus menjalankan khemoterapi, tetapi kedua orang tuanya tak tega , mereka memutuskan untuk membawa Mawar ke Jakarta untuk menjalani khemo laser tetapi itu juga harus sebanyak 21 kali ..
Hari-harinya sekarang hanya dapat dia lewati di rumah atau di rumah sakit, tak dapat kembali bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, karena kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya kulitnya yang dulu kuning langsat sekarangmenjadi hitam bahkan gak bisa dibilang sawo matang seperti halnya ciri orang indonesia, rambut ikalnya sekarang tinggalah kepala tanpa mahkota dan yang dulunya juga sudah kurus menjadi lebih tak berdaging lagi. Ketegrannya yang sangat kuat menjadikan kedua orang tuanya merasa bangga, bila hari ini ku tak dapat bersama kakak dan kedua orang tuaku,
“Biarkanlah satu jam saja agar aku bisa membuat mereka tegar, mereka bahagia dengan apa yang ku jalani saat ini””. Itulah ujar Mawar kepadaku saat aku duduk dengannya di serambi rumahnya. Dan ku hanya bisa terdiam mendengar apa yang barusan dikatakan Mawar
Dalam benak Mawar dia berdoa kepada Allah ”ya Allah, berikanlah aku kesempatan sejenak saja hanya untuk bisa melihat kedua orang tuaku, semua orang yang ku sayangi dan menyayangiku tersenyum, aku hanya ingin Kau berikan sedikit waktu untukku agar aku dapat menjadi sosok yang bermakna, aku tak ingin melihat air mata yang mengalir hanya untuk belas kasihan kepadaku, buatlah orang-orang disekelilingku lebih tegar daripada aku agar aku dapat terus tersenyum, walau dalam benakku aku tak mampu. Engkau adalah penolongku, aku kan selalu mengucap syukur atas apa yang Kau berikan walaupun itu pahit, akan aku jalani dengan senyuman,. Sang surya yang bersinar kan tetap abadi dan rembulan malam adalah senyumku untuk orang tersayangku, ....Maafkan aku ya Allah bila ku di dunia ini hanya bisa menyusahkan orang lain terutama mamakku yang sangat peduli denganku, ampuni aku ya Allah.......?”. Begitulah doa yang selalu Mawar panjatkan dikala dia shalat atau merasa tak kuat lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar