Ketegaran Mawar
Hari
masih esok dan semua aktivitas di pedesaan sudah mulai ramai, walaupun ayam
belum berkokok tapi semua orang sudah bergegas untuk melaksanakan shalat subuh
berjamaah di masjid. Di suatu kota di Pontianak tepatnya di Kalimantan barat, tinggalah
seorang anak perempuan yang cantik bersama keluaraganya dia adalah sepupuku
dekat, namanya Arsy Kusuma Wardhani dan dia juga mempunyai kakak laki-laki yang
bernama Saka, kedua orang tuanya bekerja sebagai dosen di Universitas yang ada
di sana, semula mereka hidup bahagia dan tak kurang apapun karena mereka adalah
keluarga yang cukup berada. Tetapi ketika kedua orang tua Arsy yang biasa
dipanggil Mawar mendapatkan beasiswa untuk meneruskan kuliah di Universitas
yang ada di Surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), yang mengharuskan
keluarga itu meninggalkan kota tercinta dan pindah ke Solo, Mawar dan kakaknya
juga harus pindah sekolah. Mawar memutuskan untuk tetap ikut pindah orang
tuanya, dan harus rela meninggalkan teman-temannya yang ada di Pontianak.
Suatu
ketika Mawar bertanya pada mamaknya, begitulah dia memanggil ibunya.
“mamak... apakah kita
nanti jadi pindah ke Solo? ”, Mawar
betanya dengan logat kalimantannya, lalu mamaknya menjawab “Ya tentu,
mawar...”.
Sebelumnya tanteku, ya itulah
mamaknya Mawar itu merantau sampai ke Kalimantan, sebenarnya tanteku asli
daerah Solo, dan pamanku juga asli Solo, tapi gak tau ya, mungkin setelah
mereka bertemu lalu menikah mereka memutuskan untuk merantau ke Kalimantan dan
akhirnya sekarang juga kembali lagi ke kota asalnya, hehe....Setelah perjalanan
yang cukup lama tanteku dan Mawar sampai juga di Solo, Sewaktu pertama kali aku
bertemu Mawar, aku berpikir dia adalah anak yang baik, manis, cantik, dan juga
kayaknya penurut sama orang tua,...tetapi aku sering tertawa sendiri saat aku
dengar dia berbicara, karena logatnya itu lhoo yang buat beda, bicaranya kaya
orang Malaysia, ...
Aku
sering mengunjungi rumah Mawar bersama orang tuaku hanya untuk sekedar mampir
saja, Mawar anaknya asik dan juga pendiam, dia agak sulit buat berkomunikasi
dengan bahasa jawa, tetapi dia sebenarnya juga mengerti kalau aku ajak bicara
pakai bahasa jawa, ya mungkin sih dia agak gimana gitu kalau niruin aku ngomong
bahasa jawa. Dia akan tinggal bersama orang tuanya di Solo ya sekitar 3-4
tahun, itu juga belum tentu sih. Setelah berjalannya waktu, Mawar sudah mulai
merasa nyaman tinggal di Solo, karena rumahnya yang gak jauh dari pusat kota
tapi seperti komplek perumahan padat penduduk. Tapi terkadang saat Mawar
termenung dia teringat masa-masanya di Kalimantan bersama teman-temannya. Hobi
Mawar adalah membaca novel anak, dan salah satu novel yang disukai Mawar adalah
cerita tentang seorang kakak yang sebal kepada adik angkatnya, karena adiknya
yang kembar itu sangat sering mengganggu kakaknya dan suka mengerjai kakaknya,
tetapi sebenarya dalam lubuk hati kakak dia itu sayang sekali dengan
adik-adiknya. Suatu ketika adiknya yang kembar tadi pergi suatu kota bersama
kedua orang tuanya naik pesawat, dan ada suatu kejadian yang tak terbayangkan
sekali dibenak hati kakak bahwa terjadi kecelakaan pesawat yang mengakibatkan
adik angkatnya tersebut meninggal, sebelum meninggal adik-adiknya menitipkan
sebuah surat kepada pembantunya buat kakaknya yang isinya mereka meminta maaf
kalau sering mengganggu. Nah, itulah salah satu novel kesukaan Mawar.
Dua
tahun kemudian setelah Mawar melewati hari-harinya dengan suasana baru, Di
tahun ini saat bulan puasa, Mawar pastinya juga ikut berpuasa. Dan ketika hari
ketiga, ada sesuatu yang terasa berbeda
pada diri Mawar, dia merasa pusing, mual, bahkan dia langsung jatuh tak
sadarkan diri. Karena kedua orang tua dan kakaknya panik kebingungan mereka
langsung membawa Mawar ke rumah sakit. Dokter menyarankan kepada kedua orang
tuanya, Mawar sementara waktu harus menjalani rawat inap, dan kedua orang
tuanya pun setuju karena kekhawatiran mereka pada Mawar. Sehari setelah Mawar
din opname di rumah sakit, dokter pun memberikan hasil tes lab tentang
kesehatan Mawar. Dokter pun agak ragu membacakan hasil lab nya, dari hasil lab
tersebut Mawar didiagnosis mengidap kanker otak, dan mengaharuskan dia untuk
operasi dan khemoterapi.
Ku
tahu walaupun Mawar orangnya agak pendiam, tapi aku yakin mawar bisa melewati
cobaan ini, selang tiga hari setelah dia
rawat inap, Mawar harus menjalankan operasi yang mengharuskan memotong rambut
keritingnya yang indah agar dapat mengangkat cairan yang ada di otaknya.
Teman-teman sekelas dan guru-guru Mawar tak lupa memberikan motivasi kepada
Mawar supaya dia tetap tegar dan semangat , serta berharap agar Mawar bisa
sembuh dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa serta bisa bersekolah
kembali.
Penderitaan
Mawar tak sampai di sini, karena setelah dia operasi, lima harinya adalah hari
raya Idul fitri, ..dia melewati hari raya untuk pertama kali dengan kondisi
fisik yang lemah, Mawar selalu menyakinkan dirinya ‘Bahwa aku dapat
melewatinya.....!’. Dengan keyakinan yang sangat kuat, bahkan bila hanya
seorang biasa seperti aku, aku mungkin tak kan sanggup menjalaninya, tetapi
kebalikan dengan yang ditunjukkan Mawar. Dengan ketegaran, keberanian, dan
keyakinan dia melewati hari-harinya
dengan selang yang masih melekat di bagian kepala belakangnya yang belum
diambil, karena dokter yang menangani sedang libur dan baru akan dilanjutkan
nanti setelah hari raya. Setelah itu, kondisi yang sangat berbeda seperti biasa
setelah mawar menjalani operasi yang kedua, untuk mengambil selang yang masih
ada di bagian kepala belakang, sampai dirumah dia hanya tergolek lemah tak
berdaya. Sungguh sangat tersiksanya diri Mawar, dia hanyalah gadis kecil yang
umurnya mungkin baru menginjak 12 tahun, dan Mawar juga rela mengorbankan
sekolahnya yang padahal sebentar lagi diadakan UN, tetapi apa mau dikata itulah
takdir yang harus dijalani Mawar.
Mengingat
saat Mawar masih kecil, dia lahir dengan anggota tubuh yang lengkap dan tak
cacat. Dokter memeriksanya dan mengatakan bahwa dia sehat jasmaninya. Tetapi
keadaan sekarang membuat teheran-heran, memang itulah kehendak Allah yang tak
dapat kita duga. Analisis dokter tentang penyakit Mawar adalah kemungkinan
kanker otak itu penyakit turunan atau penyakit yang dibawa oleh gen dari ayah
atau ibu, tapi melihat kedua orang tuanya yang tidak mengidap penyakit
tersebut. Tetapi setelah di ingat-ingat kembali kata mamak mawar dulu kakek
Mawar mengidap penyakit tersebut. Dokter menyimpulkan bahwa penyakit yang di
idap Mawar itu diturankan dari kakeknya.
Teringat
saat Mawar masih tersenyum kecil yang dia torehkan dibibirnya, tertawa, bermain
bersamaku. Walaupun kini dia juga bisa tersenyum, tapi aku bisa merasakan
bagaimana sakitnya bila aku menjadi Mawar. Mawar kecilku yang cantik, ramah,
ceria, dan penuh dengan aktivitas sekarang detik demi detiknya dilewati bersama
obat-obatan yang membuatnya tergantung. Ku teringat saat bagaimana Mawar
tersenyum kecil hanya untuk menyenangkan hati mamaknya. Ada satu berita dari
dokter bahwa Mawar harus menjalankan khemoterapi, tetapi kedua orang tuanya tak
tega , mereka memutuskan untuk membawa Mawar ke Jakarta untuk menjalani khemo
laser tetapi itu juga harus sebanyak 21 kali ..
Hari-harinya
sekarang hanya dapat dia lewati di rumah atau di rumah sakit, tak dapat kembali
bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, karena kanker yang menggerogoti
seluruh tubuhnya kulitnya yang dulu kuning langsat sekarangmenjadi hitam bahkan
gak bisa dibilang sawo matang seperti halnya ciri orang indonesia, rambut
ikalnya sekarang tinggalah kepala tanpa mahkota dan yang dulunya juga sudah
kurus menjadi lebih tak berdaging lagi. Ketegrannya yang sangat kuat menjadikan
kedua orang tuanya merasa bangga, bila hari ini ku tak dapat bersama kakak dan
kedua orang tuaku,
“Biarkanlah
satu jam saja agar aku bisa membuat mereka tegar, mereka bahagia dengan apa
yang ku jalani saat ini””. Itulah ujar Mawar kepadaku saat aku duduk dengannya
di serambi rumahnya. Dan ku hanya bisa terdiam mendengar apa yang barusan
dikatakan Mawar
Dalam
benak Mawar dia berdoa kepada Allah ”ya Allah, berikanlah aku kesempatan
sejenak saja hanya untuk bisa melihat kedua orang tuaku, semua orang yang ku
sayangi dan menyayangiku tersenyum, aku hanya ingin Kau berikan sedikit waktu
untukku agar aku dapat menjadi sosok yang bermakna, aku tak ingin melihat air
mata yang mengalir hanya untuk belas kasihan kepadaku, buatlah orang-orang
disekelilingku lebih tegar daripada aku agar aku dapat terus tersenyum, walau
dalam benakku aku tak mampu. Engkau adalah penolongku, aku kan selalu mengucap
syukur atas apa yang Kau berikan walaupun itu pahit, akan aku jalani dengan
senyuman,. Sang surya yang bersinar kan tetap abadi dan rembulan malam adalah
senyumku untuk orang tersayangku, ....Maafkan aku ya Allah bila ku di dunia ini
hanya bisa menyusahkan orang lain terutama mamakku yang sangat peduli denganku,
ampuni aku ya Allah.......?”. Begitulah doa yang selalu Mawar panjatkan dikala
dia shalat atau merasa tak kuat lagi.